Beranda ARTIKEL MHM Pamit Untuk Kiprah Yang Lebih Besar

MHM Pamit Untuk Kiprah Yang Lebih Besar

31

KALSEL.KABARDAERAH.COM – Sebagai kepala daerah sekaligus tokoh pemuda, Mardani H. Maming tentu banyak di kenal publik, baik di Tanah Bumbu maupun di Kalsel, bahkan nasional. Ia di kenal mulai dari kalangan masyarakat biasa hingga masyarakat kelas tertentu baik terkait dengan predikatnya sebagai politisi maupun sebagai kepala daerah. Saya pribadi mengenal dia setidaknya semenjak tahun 2010, yakni pada saat rapat penetapan pencalonan Mardani sebagai calon bupati yang di usung PDI Perjuangan di hotel Putri Duyung.

Pada saat itu, banyak yang mencibir ketika Mardani “nekat” mencalonkan diri menjadi bupati Tanah Bumbu, apalagi dengan usianya yang relatif masih sangat muda sekali, 28 tahun, ditambah kiprah dan pengalamannya dalam berpolitik praktis masih sangat sedikit sekali. Namun selanjutnya, pandangan saya yang juga pandangan orang kebanyakan pasa saat itu berangsur mulai pudar. Sebaliknya, saya justru melihat semangat Mardani sebagai anak muda benar-benar berbeda dengan anak muda kebanyakan. Oleh karena itu, sebagai soekarnois wajar kalau kemudian pandangan saya itu berubah 180 derajat, dari sangsi dengan kemampuannya menjadi salut dengan keberanian dan semangatnya yang luar biasa besar. Di tengah gambaran mainstream ketokohan politik seseorang baik di daerah maupun di level provinsi dan lebih-lebih secara nasional yang didominasi “kaum tua”, Mardani yang kala itu berpasangan dengan Difriadi Darjat tampil sebagai pendobrak kelaziman itu, apalagi kemudian ia terbukti memenangi pilkada Tanah Bumbu dg mengalahkan tiga pasangan kontestan lainnya.

Tidak gampang melakukan dobrakan politik seperti yang dilakukan Mardani saat itu. Tapi Mardani terbukti bisa membuktikan bahwa yang muda juga bisa dan mampu menjadi pemimpin, menjadi kepala daerah.

Sayapun jadi teringat ungkapan pidato Bung Karno tentang pemuda tahun 1922 “Beri aku 1000 orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri 10 Pemuda maka akan kuguncang dunia”

Selepas terpilih menjadi bupati untuk periode 2010 – 2015, selanjutnya yang disodorkan Mardani kepada publik adalah catatan panjang keberhasilannya membawa tanah kelahirannya menjadi daerah otonom yang bergerak secara dinamis, di mana program-program pembangunan yang digulirkannya benar-benar menyentuh kepentingan masyarakat secara luas. Sebut saja progran kesehatan gratis. Secara implementatif program ini telah mampu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat ke arah yang lebih baik. Begitu juga program pendidikan gratis dan pembangunan insfrastruktur, yang mana ketiga program pembangunan strategis itu terkonsepsi ke dalam ikon progran dengan nama Tri Dharma Pembangunan.

Kini Mardani telah resmi mundur dari jabatannya seperti janjinya beberapa waktu yang lalu bahwa ia akan mundur sebagai kepala daerah pada Juni 2018, setelah DPRD Tanah Bumbu menggelar rapat paripurna dengan agenda pengusulan pengunduran Mardani sebagai bupati Tanah Bumbu periode 2016 – 2021 pada Senin, 28 Juni 2018 lalu.

Banyak dari kita jelas menyayangkan keputusan politik Mardani ini. Namun tentu ia punya rencana lain dari arah dan perjalanan politiknya ke depan. Tentu ia juga punya mimpi dan harapan lain yang lebih besar dan tidak sekadar menyudahi dan menganggap apa yang diperjuangkan sudah selesai. Ia akan terus berjuang dan berkiprah bagi kemajuan dan kemaslahatan tidak hanya bagi warga Bumi Bersujud Kabupaten Tanah Bumbu, tapi bagi Kalsel, bahkan Indonesia. Bukan tidak mungkin kelak ada menteri kabinet yg berasal dari Tanah Bumbu diperiode kedua Presiden Jokowi. Bravo Mardani

Bang Dhin (DPRD)